Lagi, kutegaskan padamu, Bumi!
hasrat ini tlah lama terpatri
bahwa terbalasnya hakiki (adalah) di hari nanti
dan kubungkam diri atas sgala ironi
Maafkan aku (wahai) Dunia!
sebab tiada kubela kau (dengan) sepenuh nyawa
(Termasuk teramat) sangatlah murah jika total jiwa sekedar terharga fana
(perihal) fana adalah sebenar-benar pemerdayaan (atas harga totalitas jiwa)
sebab ia(nya) hanyalah layak dan pantas tertukar (perihal) baka
Maaf, Tuan dan Nona!
gadaian setia ini cumalah keabadian
dan tiada kujual kendati terkemas tawa
padahal terang di mata jiwa akan label neraka
tidak, tiada semudah itu anda kerjai mata hati nan jeli ini
ia.. teliti
Sungguh, maaf, Tuan dan Nona!
pun bukan sanjung hiburan peredam kejelian
atau acungan jempol pembungkam kepedulian
(sungguh, tiada kuinginkan itu semua)
Cinta (yang meng-)angkasa tidaklah kan sirna tersapu angin samudera kesalahpahaman
tiada terkikis deburan ombak syak prasangka
pun takkan hanyut tenggelam terbanjir sungkan
Karena angkasa..cumalah berbatas semesta
sedang samudera..hanyalah kulit benua
Tuan dan Nona, bagiku memanglah tak menarik (lagi) yang namanya aura retorika
sebab pelipur sukma yang bagiku nyata
adalah keterusterangan anda
dengan tingkat kewajaran nyaris sempurna
dan bertajuk: apa adanya
tanpa manipulasi data,
tanpa makar-makar penuh rekayasa terbalut bungkus kepura-puraan
dan biarlah kuingat sentiasa..kebijak(sana)an-Nya
atas SGALA urusan kita
———>> Magelang, 28 sept 09 | 22:36
— Acara 5th Kampoeng Ramadhan Jogokariyan 1430 H —
********NEW* *******
* FREE HOTSPOT AREA @ WILAYAH MASJID JOGOKARIYAN
* DOORPRIZE KAMBING QURBAN, doorprize untuk JAMA’AH TERAKTIF (ikhwan & akhwat) UNTUK
UMUM!
********NEW* *******
1. PARADE BEDUG KELILING JOGJA
Hari: Jumat 21 Agustus 2009, mulai pukul 14.00 wib
Konvoi keliling kota jogja, start dan finish di Masjid Jogokariyan
(pawai: 2 truk tronton bedug, kenthongan, ratusan sepeda motor hias.
2. PEMBUKAAN KAMPOENG RAMADHAN JOGOKARIYAN
Hari: Sabtu 22 Agustus 2009, 15.30 wib
Pembukaan secara resmi oleh KAPOLDA DIY plus buka bersama.
3. MENU LESEHAN SORE :
Di Plaza Masjid Jogokariyan mulai pukul 16.00 wib
# ES DOGER (sEmua Suka DOnGeng bErsama keluaRga)
- Kak Ksatria Baja Islam : Rabu 26 Agustus 2009
- Kak Bimo (pendongeng nasional) : Sabtu 29 agustus 2009
- Kak Wuntad : Jumat 4 september 2009
- Kak Batman : Jumat 11 september 2009
# KOLAG (Kajian, Obrolan, dan LAGu)
- Kang Anant (ex. rocker) :Rabu 2 september 2009
# KICAK (KajIan koCAK)
- Ust. Sigit Yulianto : Rabu 9 september 2009
- Ust. Sunar Yudono : Rabu 16 september 2009
4. KAJIAN AKBAR
Hari : Ahad, 30 Agustus 2009, pukul 08.30 wib
Tempat : Plaza Masjid Jogokariyan
Pembicara : Ust. Abu Bakar Ba’asyir
5. ANGKRINGAN RAMADHAN
Hari : Senin. 31 Agustus 2009, pukul 21.00 wib
Tempat : Plaza Masjid Jogokariyan
Pembicara : Ust. Puji Hartono
6. DIALOG PUBLIK
Hari : Jumat 28 Agustus 2009, 16.30 wib
Tempat : Plaza Masjid Jogokariyan
Pembicara : Kombes Agus Sukamso (KAPOLTABES Kota)
7. SEMINAR PARENTING
Hari : Ahad, 6 September 2009, pukul 08.30 wib
Tempat : Plaza Masjid Jogokariyan
Pembicara : Ust. Narotama Abu Ghifar
Tema : Cara Cerdas Mendidik Anak di Era Globalisasi
8. PASAR SORE
Setiap hari, di sepanjang jalan jogokariyan
menghadirkan menu2 buka puasa, pakaian, asesoris, dll
9. BAZAAR
Setiap hari, di Plaza Masjid Jogokariyan
Buku, Busana Muslim, Edu toys, Asesoris, Perkap Ibadah, dll
10. TARAWIH ALA MADINAH
Setiap Kamis Malam, sholat tarawih dengan mengambil bacaan 1 juz penuh
11. I’TIKAF MASJID JOGOKARIYAN
Mulai tanggal 9 September 2009, dengan kegiatan :
Kajian Kitab, Kajian Tematik, Tahsinul Qur’an, Shalat Tarawih 1/3 Malam Terakhir, dll.
Pemateri
: Ust Ahmad Khudori Lc., Ust Muhammad Jazir ASP, Ust M Fauzil Adhim,
Ust Irfan S Awwas, Ust Cahyadi Takariawan, Ust Salim A Fillah, Ust
Sholihuddin.
Fasilitas : Inap, buka dan sahur, snack, susu, buah, dll.
Kontribusi : Rp 100.000,-
Pendaftaran : ketik nama lengkap/alamat lengkap kirim ke 0856 4328 1845.
Daftar Ulang : H-1 I’tikaf — PESERTA TERBATAS !!! —
12. BUKA PUASA TIAP HARI
GRATISSSS… di Plaza Masjid Jogokariyan
13. MALAM TAKBIRAN & PENTAS SENI ISLAMI
14. SYAWALAN AKBAR & PENERBITAN BULETIN IDUL FITRI 1430 H
Persies setahoen jang laloe, tepatnja harie/tanggal delapan boelan delapan tahoen doea riboe delapan, angkatan delapan. Telah terpatrie di dalam djiwa kita goena mengawal kekoeatan kebadjiekan jang kinie bernomor delapan inie hingga pariepoerna. Semoga Dia karuniaie kita berbagai bentoek kebadjiekan darie segala pendjoeroe, tak sekedar darie delapan arah mata angien (sadja). Delapan satoe satoe koeboe kebadjiekan! Roemoes tjanggieh soerat delapan ajat satoe sampaie delapan. (
hidden_lion)
8. Al Anfaal
AL ANFAAL (RAMPASAN PERANG)
SURAT KE 8 : 75 ayat
Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang
KISAH PERANG BADAR
>> Cara pembagian ghanimah terserah kepada Allah dan Rasul
1. Mereka menanyakan kepadamu tentang (pembagian) harta rampasan perang. Katakanlah: “Harta rampasan perang kepunyaan Allah dan Rasul[593], oleh sebab itu bertakwalah kepada Allah dan perbaikilah perhubungan di antara sesamamu; dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya jika kamu adalah orang-orang yang beriman.” [593]. Maksudnya: pembagian harta rampasan itu menurut ketentuan Allah dan RasulNya.
>> Sifat-sifat orang mukmin
2. Sesungguhnya orang-orang yang beriman[594] ialah mereka yang bila disebut nama Allah[595] gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayatNya bertambahlah iman mereka (karenanya), dan hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakkal. [594]. Maksudnya: orang yang sempurna imannya.
[595]. Dimaksud dengan disebut nama Allah ialah: menyebut sifat-sifat yang mengagungkan dan memuliakanNya.
3. (yaitu) orang-orang yang mendirikan shalat dan yang menafkahkan sebagian dari rezki yang Kami berikan kepada mereka.
4. Itulah orang-orang yang beriman dengan sebenar-benarnya. Mereka akan memperoleh beberapa derajat ketinggian di sisi Tuhannya dan ampunan serta rezki (nikmat) yang mulia.
Keengganan sebahagian sahabat untuk pergi ke peperangan Badar dan pertolongan Allah kepada kaum muslimin
5. Sebagaimana Tuhanmu menyuruhmu pergi dan rumahmu dengan kebenaran[596], padahal sesungguhnya sebagian dari orang-orang yang beriman itu tidak menyukainya, [596]. Maksudnya: Menurut Al Maraghi: Allah mengatur pembagian harta rampasan perang dengan kebenaran, sebagaimana Allah menyuruhnya pergi dari rumah (di Madinah) untuk berperang ke Badar dengan kebenaran pula. Menurut Ath-Thabari: Keluar dari rumah dengan maksud berperang.
6. mereka membantahmu tentang kebenaran sesudah nyata (bahwa mereka pasti menang), seolah-olah mereka dihalau kepada kematian, sedang mereka melihat (sebab-sebab kematian itu).
7. Dan (ingatlah), ketika Allah menjanjikan kepadamu bahwa salah satu dari dua golongan (yang kamu hadapi) adalah untukmu, sedang kamu menginginkan bahwa yang tidak mempunyai kekuatan senjatalah[597] yang untukmu, dan Allah menghendaki untuk membenarkan yang benar dengan ayat-ayat-Nya dan memusnahkan orang-orang kafir, [597]. Maksudnya kafilah Abu Sofyan yang membawa dagangan dari Siria/Syam. Sedangkan kelompok yang berkekuatan senjata adalah yang datang dari Mekkah dibawah pimpinan `Utbah bin Rabi`ah bersama Abu Jahal.
8. agar Allah menetapkan yang hak (Islam) dan membatalkan yang batil (syirik) walaupun orang-orang yang berdosa (musyrik) itu tidak menyukainya.
Menapaki langkah-langkah berduri
Menusuri rawa, lembah dan hutan
Berjalan di antara tebing curam
Semua dilalui demi perjuangan
Letih tubuh di dalam perjalanan
Saat hujan dan badai merasuki badan
Namun jiwa harus terus bertahan
Karena perjalanan masih panjang
Kami adalah tentara Allah
Siap melangkah menuju ke medan juang
Walau tertatih kaki ini berjalan
Jiwa perindu syahid tak akan tergoyahkan
Wahai tentara Allah bertahanlah!
Jangan menangis walau jasadmu terluka!
Sebelum engkau bergelar syuhada’
Tetaplah bertahan dan bersiap-siagalah! (2x)
Gunung tinggi menjulang
Samudera luas membentang
Adalah lahan peneguhan
Hutan rimba
Padang gersang
Jadi ajang pembuktian
Hujan badai
Terik panas kerontang
Pasti ’kan hiasi perjalanan
Saat langkah telah diayunkan
Pantang surut ke belakang
Hingga sampai ke tujuan
Bertahanlah dan bersiap-siagalah!
*** Muqaddimah @ Album Bangkitlah Negeriku by Shoutul Harokah
10 tahun terakhir,
4 kali nahkoda bahtera negeri ini berganti
10 tahun terakhir,
Pemegang amanat semakin tidak bisa dipercaya
Mereka semakin rakus merampas hak-hak rakyat jelata
10 tahun terakhir,
Malapetaka pun selalu menghantam negeri ini
Tsunami, banjir, longsor dan bermacam penyakit silih berganti merontokkan anak-anak negeri
10 tahun terakhir
Orang-orang lapar dan orang-orang menganggur semakin tidak terhitung jumlahnya
10 tahun terakhir
Kemaksiatan dan tindak kejahatan sangat sulit dihentikan
Rasa malu dan rasa peduli terasa semakin menjauh
Adakah harapan dan asa di negeri ini?
Mungkinkah Allah berkenan untuk mencurahkan berkah dan rahmat-Nya?
Apakah kita berhak untuk berkuasa dan memimpin negeri ini?
Pantaskah kita melayani orang-orang yang bosan dengan janji-janji para penipu?
Ingatlah saudaraku, arah dan tujuan kita jangan berubah!
Langkah harus semakin tegap
Karena perubahan adalah kepastian
Bangkitkan semangat dan rebut setiap peluang!
Jangan sibuk dengan hal yang tidak penting!
Lenyapkan keraguan!
Dan yakinlah!
Bahwa Allah pasti membimbing kita untuk mendapatkan kebahagiaan yang hakiki.
***
Pinjam istilah TNI/Kopassus: kalah dicaci, menang tak dipuji. Tapi kata Shoutul Harokah dalam Gelombang Keadilan, generasi baru yang tlah dinanti tu tak takut dicaci dan tak gentar mati. Tunaikan tugas suci, raih kebahagiaan hakiki!
>> Berbenah langkah, berbekal sejarah | Laksana pasukan pemanah nan setia, tidak meninggalkan posnya (
Toko yang menjual suami, baru saja dibuka di sebuah kota . Di sana , wanita dapat memilih suami.
Di antara instruksi-instruksi yang ada di pintu masuk terdapat instruksi yang menunjukkan bagaimana aturan main untuk masuk toko tersebut.
“Kamu hanya dapat mengunjungi toko ini SATU KALI”
Toko tersebut terdiri dari 6 lantai dimana setiap lantai akan menunjukkan sebuah calon kelompok suami.
Semakin tinggi lantainya, semakin tinggi pula nilai lelaki tersebut. Bagaimanapun, ini adalah semacam jebakan. Kamu dapat memilih lelaki di lantai tertentu atau lebih memilih ke lantai berikutnya tetapi dengan syarat tidak bisa turun ke lantai sebelumnya kecuali untuk keluar dari toko..
Lalu, seorang wanita pun pergi ke toko “suami” tersebut untuk mencari suami..
Di lantai 1 terdapat tulisan seperti ini :
Lantai 1 : Lelaki di lantai ini memiliki pekerjaan dan taat pada Tuhan Wanita itu tersenyum,
kemudian dia naik ke lantai selanjutnya.
Di lantai 2 terdapat tulisan seperti ini :
Lantai 2 : Lelaki di lantai ini memiliki pekerjaan, taat pada Tuhan,dan senang anak kecil
Kembali wanita itu naik ke lantai selanjutnya.
Di lantai 3 terdapat tulisan seperti ini :
Lantai 3 : Lelaki di lantai ini memiliki pekerjaan, taat pada Tuhan,senang anak kecil dan cakep banget.
” Wow”, tetapi pikirannya masih penasaran dan terus naik.
Lalu sampailah wanita itu di lantai 4 dan terdapat tulisan Lantai 4 :
Lelaki di lantai ini yang memiliki pekerjaan, taat pada Tuhan, senang anak kecil, cakep banget dan suka membantu pekerjaan rumah.
”Ya ampun !” Dia berseru, ”Aku hampir tak percaya”
Dan dia tetap melanjutkan ke lantai 5 dan terdapat tulisan seperti ini :
Lantai 5 : Lelaki di lantai ini memiliki pekerjaan, taat pada Tuhan, senang anak kecil,cakep banget,suka membantu pekerjaan rumah, dan memiliki rasa romantis.
Dia tergoda untuk berhenti tapi kemudian dia
melangkah kembali ke lantai 6 dan terdapat tulisan seperti ini :
Lantai 6 : Anda adalah pengunjung yang ke 4.363.012. Tidak ada lelaki di lantai ini.Lantai ini hanya semata-mata bukti untuk Anda yang tidak pernah puas.
Terima kasih telah berbelanja di toko “Suami”. Hati-hati ketika keluar toko dan semoga hari yang indah buat anda.
***
dpt dr: http://www.facebook.com/note.php?note_id=61644199154 (repost, permak dikit kasi pict)
satu saat, kuminta nasehat pada seorang sahabat
aku merasa tak layak akh, katanya
aku tersenyum dan berkata
jika tiap kesalahan kita dipertimbangkan
sungguh di dunia ini tak ada lagi
orang yang layak memberi nasehat
memang merupakan kesalahan
jika kita terus saja saling menasehati
tapi dalam diri tak ada hasrat untuk berbenah
dan menjadi lebih baik lagi di tiap bilangan hari
tapi adalah kesalahan juga
jika dalam ukhuwah tak ada saling menasehati
hanya karena kita berselimut baik sangka kepada saudara
dan adalah kesalahan terbesar
jika kita enggan saling menasehati
hanya agar kita sendiri tetap
merasa nyaman berkawan kesalahan
Subhanallaah, di jalan cinta para pejuang
nasehat adalah ketulusan
kawan sejati bagi nurani
menjaga cinta dalam ridhaNya
Tidakkah engkau tahu anakku,
segala ‘udzur telah dihapus dengan firmanNya,
“Berangkatlah dalam keadaan ringan ataupun berat!”?
-Abu Ayyub Al Anshari, Radhiyallaahu ‘Anhu-
Di buku Saksikan Bahwa Aku Seorang Muslim, saya pernah berkisah tentang Ibnu Taimiyah. Dia yang selalu dipasang di garis depan, menjadi pejuang pengobar semangat ketika serbuan Mongol bergemuruh menerjang Damaskus. Dan dialah juga yang tiap kali tugas jihad itu usai harus bersetia menghuni selnya di penjara kota.
Tetapi jeruji-jeruji tak menghentikannya. Disaksikan besinya yang berkarat dan temboknya yang berlumut dia ucapkan kekatanya yang menyejarah. “Apa yang mereka lakukan padaku? Jiwaku merdeka dalam genggaman Allah. Jika aku dipenjara, jadilah ia rehat. Jika dibuang jadilah ia tamasya. Jika dibunuh, apalagi yang lebih kurindukan selain menemui Allah?” Penjara tak menghentikannya. Ia tetap berkarya. Saat tinta, kertas, dan pena dijauhkan darinya, ditulisnya Risalatul Hamawiyah di dinding penjara dengan arang sisa perapian. Dan dunia pun menjadi saksi, bahwa jiwanya telah menari di atas semua batas, merayakan pengabdian yang hanya ia tujukan pada Allah sepanjang hidupnya.
Izinkan kali ini saya hadirkan seorang lagi yang menari di atas batas. Namanya Muhammad ibn ‘Ali. Tapi orang akan lebih mengangguk tanda kenal jika disebut nama Muhammad ibn Al Hanafiyah. Ini menisbat pada ibunya, seorang wanita dari Bani Hanifah. Ya, ayahandanya adalah ‘Ali ibn Abi Thalib, radhiyallaahu ‘anhu. Tapi ibundanya bukanlah Fathimah. Artinya, dia bukan berasal dari garis turun langsung Sang Nabi, Shallallaahu ‘Alaihi wa Sallam.
Satu saat seseorang mempermasalahkan pembedaan yang dilakukan atas dirinya dibanding kedua kakandanya, Al Hasan dan Al Husain. “Tidakkah kau lihat”, kata orang itu, “Ayahmu lebih mencintai Al Hasan dan Al Husain dibanding dirimu?”
“Duh, jangan katakan begitu kawan!”, jawabnya kalem. “Al Hasan dan Al Husain bagaikan dua mata bagi ayahku. Sedang aku ini bagaikan kedua tangannya. ” Senyumnya mengembang, manis sekali. “Adalah tugas kedua tangan”, lanjutnya, “Untuk menjaga kedua mata.” Dan memang begitulah kehidupannya, diabdikan untuk menjaga kedua kakandanya hingga batas waktu yang telah Allah tetapkan. Hingga, Al Hasan wafat dan Al Husain pun gugur dalam kisah yang terlalu pedih untuk kita ceritakan.
Dendamkah Muhammad ibn Al Hanafiyah pada keluarga besar yang telah menzhalimi keluarganya itu; Bani Umayyah? Secara manusiawi tentu jawabnya ya. Apalagi rasa pedih itu kadang muncul di saat seharusnya ia tunduk khusyu’ dan mentaati wasiat taqwa. Masa itu, hampir tak ada khuthbah Jum’at yang melewatkan pujian untuk Mu’awiyah sekeluarga sekaligus cacian untuk ‘Ali, ayahandanya. Seakan, mengumpat ‘Ali ibn Abi Thalib adalah bagian dari rukun khuthbah.
Tetapi orang-orang kemudian tertakjub ketika ia memenuhi panggilan jihad yang diserukan Yazid ibn Mu’awiyah, orang yang paling bertanggungjawab atas pembantaian Al Husain sekeluarga. “Layakkah orang seperti itu ditaati?”, tanya orang-orang.
“Memangnya ada apa dengannya?”
“Dia meninggalkan shalat, meminum khamr, dan jauh dari hukum Allah!”
“Aku tidak melihat itu ketika membersamainya. Dia menunaikan shalat, cenderung pada kebajikan, dan bertanya tentang Al Quran juga sunnah RasulNya.”
“Dia hanya berpura-pura di hadapanmu!”
“Apakah yang ditakutkannya atasku hingga harus berpura-pura? Dan jika kalian memang melihatnya melakukan semua itu, mengapa dia tidak berpura-pura pada kalian? Apakah kalian semua ini sahabat akrabnya yang ingin menjebakku?”
Mereka terdiam. Saling pandang. Lalu berkata lagi, “Bukankah Bani Umayyah yang telah menzhalimi keluargamu hingga binasa dan curas? Apa yang akan kau katakan di hadapan Allah dan di hadapan ayahmu, juga saudara-saudaramu, jika kini kau berperang di bawah panji-panji Bani Umayyah?”
Muhammad ibn Al Hanafiyah tersenyum. “Ayahku kini membersamai Rasulullah di surga tertinggi, sementara saudara-saudaraku adalah penghulu para pemuda di sana. Kezhaliman Bani Umayyah adalah urusan mereka dengan Allah. Urusanku kini adalah berjihad di jalan Allah dan mentaati Ulil Amri.”
Begitulah. Tak mudah menjadi seorang Muhammad ibn Al Hanafiyah. Ada kendala-kendala, ada batas-batas yang membuatnya terhalang untuk memberikan pengabdian. Batas-batas itu bukan hanya ada di dataran raga, tapi jauh di sana, di dalam jiwanya. Dan kini jiwanya menari di atas batas, merayakan pengabdian yang sepanjang hidup ia tujukan untuk Allah.
Memaknai batas kadang memberi kita permakluman untuk mengambil ‘udzur. Selalu ada pembenaran atas setiap langkah mundur yang kita ambil. Selalu ada alasan untuk berlama-lama di tiap perhentian yang kita singgahi. Tetapi di jalan cinta para pejuang, para kstaria agung itu bertanya pada hati. Dan mereka menemukan jawab yang membuat jiwa menari di atas batas, meski jasad harus bersipayah mengimbanginya. ‘Amr ibn Al Jamuh, lelaki pincang dari Bani Najjar itu diminta rehat ketika hari Uhud tiba. “Dengan kaki pincangku inilah”, katanya, “Aku akan melangkah ke surga!” Jiwanya menari di atas batas, dan Sang Nabi di hari Uhud bersaksi, “Ia kini telah berada di antara para bidadari, dengan kaki yang utuh tak pincang lagi!”
Dengan nikmat Allah yang begitu besar atas jiwa dan raga ini, apa yang harus kita katakan pada ‘Amr ibn Al Jamuh, Ahmad Yassin, dan orang-orang semisal mereka saat kita disaput diam dan santai? Dengan kemudaan ini, berkacalah kita pada Abu Ayyub Al Anshari yang di usia delapanpuluh tahunnya bergegas-gegas ke Konstantinopel, menjadikan pedangnya sebagai tongkat penyangga tubuh sepanjang jalan. Dan apa jawab kita saat kita ingatkan bahwa ia punya ‘udzur, tapi justru dia bertanya, “Tidak tahukah engkau Nak, bahwa ‘udzur telah dihapus dengan firmanNya, ‘Berangkatlah dalam keadaan ringan maupun berat!’?”
Berawal dari wall facebook Akh Bina Iman (syukran utk beliau) shg menjadi ide utk tema materi hari ini di Taklim Ibu-Ibu Bank (IWABA) di Gedung BI Batam. Smg bisa bermanfaat terutama menasehati diri sy sendiri.
Utk Ibu Azizah Husein, mhn di share ke fb ibu2 yg lain, krn sy belum di add.
Tanda-tanda Ruhiyyah yang kering
H.Ahmad Syaikhuddin
1. Ibadah tidak terasa khusu’
“Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu’,” (QS AlBaqarah :45)
2. Hati yang keras (tidak gampang menerima hidayah)
” Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka), dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan Al Kitab kepadanya, kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras. Dan kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang yang fasik.” (AlHadid:16)
3. Mendengar ayat alqur’an dan mendengarkan lagu tidak ada bedanya
Katakanlah: “Sesungguhnya jika manusia dan jin berkumpul untuk membuat yang serupa Al Quran ini, niscaya mereka tidak akan dapat membuat yang serupa dengan dia, sekalipun sebagian mereka menjadi pembantu bagi sebagian yang lain. (Al-Isra: 88)
Dan Kami turunkan dari Al Quran suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan Al Quran itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zalim selain kerugian. (Al Isra:82)
4. Tidak menjaga pandangan
Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandanganya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat. Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara lelaki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinyua agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung. (AnNur :30-31)
5. Enggan mendatangi majelis ilmu
”……Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan”.( AlMujadilah:11)
”Barangsiapa menempuh perjalanan untuk menuntut ilmu maka Allah akan mudahkan baginya jalan menuju surga”. (HR Muslim)
“Barangsiapa yang keluar (pergi) menuntut ilmu ia berada di jalan Allah sampai kembali pulang”. (HR Tirmidzi)
“Sebaik-baik kalian adalah yang belajar dan mengajarakan Al Qur’an.” (Al Hadits)
“Keutamaan orang yang berilmu dibandingkan dengan orang yang ahli ibadah laksana keutamaan bulan atas seluruh bintang”. (HR Tirmidzi)
6. Tidak ada niat mengunjungi ka’bah
“Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah yaitu (bagi) orang yang sanggup melaksanakan perjalanan ke Baitullah. Dan barangsiapa mengingkari (kewajiban haji) maka sesungguhnya Allah Maha Kaya (tidak memerlukan) dari semesta alam.” (Ali-Imran : 97)
“Umrah ke umrah adalah penghapus dosa antara keduanya, dan haji yang mabrur tidak mempunyai pahala selain surga.” (Muttafaq alaih).
“Baragsiapa melakukan haji tanpa berbuat keji dan tidak fasiq, maka ia kembali tidak berdosa sebagaimana waktu ia dilahirkan oleh ibunya.” (Muttafaq alaih).
7. Jarang membaca alqur’an
Beberapa keutamaan membaca Al Qur`an sebagai berikut :
1. Manusia yang terbaik.
Dari `Utsman bin `Affan, dari Nabi bersabda : “Sebaik-baik kalian yaitu orang yang mempelajari Al Qur`an dan mengajarkannya.” H.R. Bukhari.
2. Dikumpulkan bersama para Malaikat.
Dari `Aisyah Radhiyallahu `Anha berkata, Rasulullah bersabda : “Orang yang membaca Al Qur`an dan ia mahir dalam membacanya maka ia akan dikumpulkan bersama para Malaikat yang mulia lagi berbakti. Sedangkan orang yang membaca Al Qur`an dan ia masih terbata-bata dan merasa berat (belum fasih) dalam membacanya, maka ia akan mendapat dua ganjaran.” Muttafaqun `Alaihi.
3. Sebagai syafa`at di Hari Kiamat.
Dari Abu Umamah Al Bahili t berkata, saya telah mendengar Rasulullah bersabda : “Bacalah Al Qur`an !, maka sesungguhnya ia akan datang pada Hari Kiamat sebagai syafaat bagi ahlinya (yaitu orang yang membaca, mempelajari dan mengamalkannya).” H.R. Muslim.
4. Kenikmatan tiada tara
Dari Ibnu `Umar t, dari Nabi bersabda : “Tidak boleh seorang menginginkan apa yang dimiliki orang lain kecuali dalam dua hal; (Pertama) seorang yang diberi oleh Allah kepandaian tentang Al Qur`an maka dia mengimplementasikan (melaksanakan)nya sepanjang hari dan malam. Dan seorang yang diberi oleh Allah kekayaan harta maka dia infakkan sepanjang hari dan malam.” Muttafaqun `Alaihi.
5. Ladang pahala.
Dari Abdullah bin Mas`ud t berkata, Rasulullah e : “Barangsiapa yang membaca satu huruf dari Kitabullah (Al Qur`an) maka baginya satu kebaikan. Dan satu kebaikan akan dilipat gandakan dengan sepuluh kali lipat. Saya tidak mengatakan “Alif lam mim” itu satu huruf, tetapi “Alif” itu satu huruf, “Lam” itu satu huruf dan “Mim” itu satu huruf.” H.R. At Tirmidzi dan berkata : “Hadits hasan shahih”.
6. Kedua orang tuanya mendapatkan mahkota surga
Dari Muadz bin Anas t, bahwa Rasulullah e bersabda : “Barangsiapa yang membaca Al Qur`an dan mengamalkan apa yang terdapat di dalamnya, Allah akan mengenakan mahkota kepada kedua orangtuanya pada Hari Kiamat kelak. (Dimana) cahayanya lebih terang dari pada cahaya matahari di dunia. Maka kamu tidak akan menduga bahwa ganjaran itu disebabkan dengan amalan yang seperti ini. ” H.R. Abu Daud.
8. Menggampangkan urusan yang syubhat
Nyanyian, permainan, urusan-urusan yang kurang penting dan membuat lalai dari mengingat Allah SWT dll.
Tambahan :
Mengapa Hati Keras Membatu ?
Hati adalah sumber penalaran, tempat pertimbangan, tumbuhnya cinta dan benci, keimanan dan kekufuran, taubat dan keras kepala, ketenangan dan kegoncangan.
Hati juga sumber kebahagiaan, jika kita mampu membersihkannya, namun sebaliknya merupakan sumber bencana jika menodainya. Aktivitas badan sangat tergantung lurus bengkoknya hati. Abu Hurairah Radhiallaahu anhu berkata, “Hati adalah raja, sedangkan anggota badan adalah tentara. Jika raja itu bagus, maka akan bagus pula tentaranya. Jika raja itu buruk, maka akan buruk pula tentaranya.”
Tanda-Tanda Kerasnya Hati
Hati yang keras memiliki tanda-tanda yang bisa dikenali, di antara yang terpenting sebagai berikut :
1. Malas Melakukan Kataatan dan Amal Kebaikan
Terutama malas untuk menjalankan ibadah, bahkan mungkin meremehkan nya, melakukan shalat asal-asalan tanpa ada kekhusyukan dan kesungguhan, merasa berat dan enggan, merasa berat pula menjalankan ibadah-ibadah sunnah. Allah telah menyifati kaum munafiqin. Firman-Nya, artinya,
“Dan mereka tidak mengerjakan shalat, melainkan dengan malas dan tidak (pula) menafkahkan (harta) mereka, melainkan dengan rasa enggan.” (At-Taubah : 54)
2. Tidak Tersentuh Oleh Ayat Al-Qur’an dan Petuah
Ketika disampaikan ayat-ayat yang berkenaan dengan janji dan ancaman Allah, maka tidak terpengaruh sama sekali, tidak mau khusyu’ atau tunduk, dan juga lalai dari membaca al-Qur’an serta mendengarkannya, bahkan enggan dan berpaling darinya. Sedang kan Allah Subhannahu wa Ta’ala telah memperingatkan, artinya,
“Maka beri peringatanlah dengan al-Qur’an orang yang takut kepada ancaman-Ku.” (Qaaf : 45)
3. Tidak Tersentuh dengan Ayat Kauniyah
Tidak tergerak dengan adanya peristiwa-peristiwa yang dapat memberikan pelajaran, seperti kematian, sakit, bencana dan semisalnya. Dia memandang kematian atau orang yang sedang diusung ke kubur sebagai sesuatu yang tidak ada apa-apanya, padahal cukuplah kematian itu sebagai nasihat.
“Dan tidakkah mereka (orang-orang munafik) memperhatikan bahwa mereka diuji sekali atau dua kali setiap tahun, kemudian mereka tidak (juga) bertaubat dan tidak (pula) mengambil pelajaran?” (At-Taubah :126)
4. Berlebihan Mencintai Dunia dan Melupakan Akhirat
Himmah dan segala keinginannya tertumpu untuk urusan dunia semata. Segala sesuatu ditimbang dari sisi dunia dan materi. Cinta, benci dan hubungan dengan sesama manusia hanya untuk urusan dunia saja. Ujungnya, jadilah dia seorang yang dengki, egois dan individualis, bakhil dan tamak terhadap dunia.
5. Kurang Mengagungkan Allah.
Sehingga hilang rasa cemburu dalam hati, kekuatan iman melemah, tidak marah ketika larangan Allah diterjang, serta tidak mengingkari kemungkaran. Tidak mengenal yang ma’ruf serta tidak peduli terhadap segala kemaksiatan dan dosa.
6. Kegersangan Hati
Kesempitan dada, mengalami kegoncangan, tidak pernah merasakan ketenangan dan kedamaian sama sekali. Hatinya gersang terus-menerus dan selalu gundah terhadap segala sesuatu.
7. Kemaksiatan Berantai
Termasuk fenomena kerasnya hati adalah lahirnya kemaksiatan baru akibat dari kemaksiatan yang telah dilakukan sebelumnya, sehingga menjadi sebuah lingkaran setan yang sangat sulit bagi seseorang untuk melepaskan diri.
Sebab-Sebab Kerasnya Hati
Di antara faktor kerasnya hati, yang penting untuk kita ketahui yakni:
1. Ketergantungan Hati kepada Dunia serta Melupakan Akhirat
Kalau hati sudah keterlaluan mencintai dunia melebihi akhirat, maka hati tergantung terhadapnya, sehingga lambat laun keimanan menjadi lemah dan akhirnya merasa berat untuk menjalankan ibadah. Kesenangannya hanya kepada urusan dunia belaka, akhirat terabaikan dan bahkan ter-lupakan. Hatinya lalai mengingat maut, maka jadilah dia orang yang panjang angan-angan.
Seorang salaf berkata, “Tidak ada seorang hamba, kecuali dia mempunyai dua mata di wajahnya untuk memandang seluruh urusan dunia, dan mempunyai dua mata di hati untuk melihat seluruh perkara akhirat. Jika Allah menghendaki kebaikan seorang hamba, maka Dia membuka kedua mata hatinya dan jika Dia menghendaki selain itu (keburukan), maka dia biarkan si hamba sedemikian rupa (tidak mampu melihat dengan mata hati), lalu dia membaca ayat, “Maka apakah mereka tidak memperhatikan al-Qur’an ataukah hati mereka terkunci.” (Muhammad : 24)
2. Lalai
Lalai merupakan penyakit yang berbahaya apabila telah menjalar di dalam hati dan bersarang di dalam jiwa. Karena akan berakibat anggota badan saling mendukung untuk menutup pintu hidayah, sehingga hati akhirnya menjadi terkunci. Allah berfirman, “Mereka itulah orang-orang yang hati, pendengaran dan penglihatannya telah dikunci mati oleh Allah, dan mereka itu lah orang-orang yang lalai” (QS.16:108)
Allah Subhannahu wa Ta’ala memberitahukan, bahwa orang yang lalai adalah mereka yang memiliki hati keras membatu, tidak mau lembut dan lunak, tidak mempan dengan berbagai nasehat. Dia bagai batu atau bahkan lebih keras lagi, karena mereka punya mata, namun tak mampu melihat kebenaran dan hakikat setiap perkara. Tidak mampu membedakan antara yang bermanfaat dan membahayakan. Mereka juga memiliki telinga, namun hanya digunakan untuk mendengarkan berbagai bentuk kebatilan, kedustaan dan kesia-siaan. Tidak pernah digunakan untuk mendengarkan al-haq dari Kitabullah dan Sunnah Rasul Shalallaahu alaihi wasalam (Periksa QS. Al A’raf 179)
3. Kawan yang Buruk
Ini juga merupakan salah satu sebab terbesar yang mempengaruhi kerasnya hati seseorang. Orang yang hidupnya di tengah gelombang kemaksiatan dan kemungkaran, bergaul dengan manusia yang banyak berku-bang dalam dosa, banyak bergurau dan tertawa tanpa batas, banyak mendengar musik dan menghabiskan hari-harinya untuk film, maka sangat memungkinkan akan terpengaruh oleh kondisi tersebut.
4. Terbiasa dengan Kemaksiatan dan Kemungkaran
Dosa merupakan penghalang seseorang untuk sampai kepada Allah. Ia merupakan pembegal perjalanan menuju kepada-Nya serta membalikkan arah perjalanan yang lurus.
Kemaksiatan meskipun kecil, terkadang memicu terjadinya bentuk kemaksiatan lain yang lebih besar dari yang pertama, sehingga semakin hari semakin bertumpuk tanpa terasa. Dianggapnya hal itu biasa-biasa saja, padahal satu persatu kemaksiatan tersebut masuk ke dalam hati, sehingga menjadi sebuah ketergantungan yang amat berat untuk dilepaskan. Maka melemahlah kebesaran dan keagungan Allah di dalam hati, dan melemah pula jalannya hati menuju Allah dan kampung akhirat, sehingga menjadi terhalang dan bahkan terhenti tak mampu lagi bergerak menuju Allah.
5. Melupakan Maut, Sakarat, Kubur dan Kedahsyatannya.
Termasuk seluruh perkara akhirat baik berupa adzab, nikmat, timbangan amal, mahsyar, shirath, Surga dan Neraka, semua telah hilang dari ingatan dan hatinya.
6. Melakukan Perusak Hati
Yang merusak hati sebagaimana dikatakan Imam Ibnul Qayyim ada lima perkara, yaitu banyak bergaul dengan sembarang orang, panjang angan-angan, bergantung kepada selain Allah, berlebihan makan dan berlebihan tidur.
Solusi
Hati yang lembut dan lunak merupakan nikmat Allah yang sangat besar, karena dia mampu menerima dan menyerap segala yang datang dari Allah. Allah mengancam orang yang berhati keras melalui firman-Nya,
“Maka kecelakaan yang besarlah bagi mereka yang membatu hatinya untuk mengingat Allah.Mereka itu dalam kesesatan yang nyata. (Az-Zumar: 22)
Di antara hal-hal yang dapat membantu menghilangkan kerasnya hati dan menjadikannya lunak, lembut dan terbuka untuk menerima kebenaran dari Allah yakni:
1. Ma’rifat (mengenal) Allah
Siapa yang kenal Allah, maka hatinya pasti akan lunak dan lembut, dan siapa yang jahil terhadap-Nya, maka akan keras hatinya. Semakin bodoh seseorang terhadap Allah, maka akan semakin berani melanggar batasan-Nya. Dan semakin seseorang berfikir tentang Allah, maka semakin sadar akan kebesaran Allah, keluasan nikmat serta kekuasaan Nya.
2. Mengingat Maut
Pertanyaan kubur, kegelapannya, sempit dan sepinya, juga penderitaan menjelang sakaratul maut termasuk ke dalam mengingat maut. Memperhatikan pula orang-orang yang telah mendekati kematian dan menghadiri jenazah. Hal itu dapat membangunkan ketertiduran hati kita, dan mengingatkan dari keterlenaan. Sa’id bin Jubair berkata, “Seandainya mengingat mati lepas dari hatiku, maka aku takut kalau akan merusak hatiku.”
3. Berziarah Kubur dan Memikirkan Penghuninya.
Bagaimana mereka yang telah ditimbun tanah, bagaimana mereka dulu makan, minum dan berpakaian dan kini telah hancur di dalam kubur, mereka tinggalkan segala yang dimiliki, harta, kekuasaan maupun keluarga, lalu ingat dan berfikir, bahwa sebentar lagi dia juga akan mengalami hal yang sama.
4. Memperhatikan Ayat-ayat Al- Qur’an.
Memikirkan ancaman dan janjinya, perintah dan larangannya. Karena dengan memikirkan kandungannya, maka hati akan tunduk, iman akan bergerak mendorong untuk berjalan menuju Rabbnya, hati menjadi lunak dan takut kepada Allah.
5. Mengingat Akhirat dan Kiamat
Huru-hara dan kedahsyatannya, Surga dengan kenimatannya, neraka dengan penderitaannya yang disediakan bagi para pelaku dosa dan kemaksiatan.
6. Memperbanyak Dzikir dan Istighfar
Dzikir dapat melunakan hati yang keras. Karena itu selayaknya seorang hamba mengobati hatinya dengan berdzikir kepada Allah, sebab ketika kelalaian bertambah, maka kekerasan hati makin memuncak pula.
7. Mendatangi Orang Shalih dan Bergaul dengen Mereka.
Orang shaleh akan memberikan semangat ketika kita lemah, mengingatkan ketika lupa, dan memberikan jalan ketika kita bingung dan pertemuan dengan mereka akan membantu kita dalam melakukan ketaatan kepada Allah
8. Berjuang, Introspeksi dan Melihat Kekurangan Diri.
Manusia, jika tidak mau berjuang, introspeksi dan melihat kekurangan diri, maka dia tidak tahu, bahwa dirinya sakit dan banyak kekurangan. Jika dia tidak merasa sakit atau punya kekurangan, maka bagaimana mungkin dia akan memperbaiki diri atau berobat?
Wallahu a’lam, semoga Allah Subhannahu wa Ta’ala melunakkan hati kita semua untuk menerima dan menjalankan kebenaran, amin ya Rabbal ‘alamin.
Sumber : Kutaib “Limadza Taqsu Qulubuna” Al-Qism al-Ilmi Darul Wathan.
***
*) backsound: Opick_-_Kembali Pada Allah
Doa ketika mengalami hal buruk atau kalah dalam suatu urusan
Qodarullooh, wa maa syaa-a fa-’al
“semuanya sudah ditakdirkan oleh Allah, apa saja yang telah Dia takdirkan, pasti terjadi*)”
*** *) “mukmin yang kuat itu lebih baik dan lebih disukai Allah daripada mukmin yang lemah. Namun masing-masing memiliki kebaikan. Berusahalah untuk melakukan yang bermanfaat bagimu, mintalah pertolongan kepada Allah dan jangan menjadi lemah. Kalau engkau tertimpa sesuatu, jangan mengatakan: “seandainya tadi kulakukan ini dan itu, (tentu akan baik jadinya),” tapi katakanlah: “semuanya sudah ditakdirkan oleh Allah. Segala yang ditakdirkan oleh Allah, pasti akan terjadi.”. karena (kata) ‘seandainya’ adalah pembuka pintu syetan.” Diriwayatkan Muslim IV/2052.
*** Gak usah linglung dengan ’kegagalan’ atas capaian-capaian atau target yang kita patok. Mengapa demikian? Karena sesungguhnya mudah saja langkah yang perlu kita lakukan berikutnya, yang jelas bukan linglung, apalagi ngambek.. akan tetapi .. melainkan .. ( mendiang Timbul Srimulat mode on … *diem lama banget sembari menaruh ibu jari tangan di kening/jidat*)… yakni mengevaluasi ’langkah-langkah masa lalu’ kemudian berembug langkah solutif yang hendak ditempuh. Ya, berbenah langkah berbekal sejarah.
Bisa pula didahului dengan langkah awal berupa refreshing.. melakukan perjalanan..
Senyum … v(=^_^=)/
*** >> back sound:
Senyum Dong Fren!
Album : Senyum Dong Fren
Munsyid : Justice Voice
http://liriknasyid.com
Intro:
(suara “kemresek” yang memang disengaja plus siaran agak “nyleneh” by JiVo)
Huuuuauuu huauuu woi ya ya… 2x
*Hari ini kumulai dengan ceria
Senyum sapa kepada semua orang
Ku ucap salam untukmu teman-teman
Oh semoga rahmat dan berkah-Nya terlimpah untuk semua
Reff 1:
123… ku langkahkan kakiku dengan Bismillah
Yakinlah hari ini begitu indah
456… ku lakukan apa yang baik kudapat
Oh… semuanya sangat indah…
Fren… ngapain kok kamu cemberut aje
You punya problem ya harus diselesaiin
Kalo cuma dipikir kamu bisa tambah pusing
Kalo kena migrain… duh aduh kepala sakitnya bukan main…
Reff 2:
123… selesaikan masalah tanpa masalah
Dengan amal dan hati tertuju pada-Nya
456… ingat semua adalah ujian dari-Nya
agar kamu makin dewasa…
interlude…
Huuauuu huaau woi ya ya… (fill ini “tepuk tangan”)
back to *
Ending:
Hari ini kau makin ceria
Senyum sapa pada semua orang…
Hari ini kau makin dewasa
Senyum sapa pada semuanya…
Huuaauu huuaauu woi ya ya… 2x
Senyum Dong Fren!
karya: Asep JV
Arr.: Asep, Jusvan & JV
Vokal/Falset: Asep
Back Bariton: Faris, Backing 1: Eko P, Back 2: Faris, Back 3/Falset: Jusvan
Bass: Wiwied
[Tepuk tangan pilihan dengan alat atau bareng?]
— Ronny “Gemilang” Harjito, A.Ma.
http://karatekapuitis.blogspot.com/
dapet email dari teman, belum mencantumkan sumbernya.
setelah mencoba tanya mbah gugel, ada beberapa postingan terkait, sebagian besar mencantumkan sumber “dari sebuah millis”, postingan awal sekitar tahun 2004 (berdasarkan googling saya).
gak bosen2nya mbaca berulang kali ..
keren abis lah pokoknya.
gak percaya?
coba aja anda baca, saya yakin bikin ketagihan.
he …
nih loh …
(met mbaca)
***
Musim semi kini telah tiba
Bunga-bunga bermekaran
Di sepanjang jalan warna berganti
Segar asri berseri dihati
”Aku ingin keluar dari jamaah ini!”, sepotong kalimat terlontar dari seorang ikhwah. Bukan untuk yang pertama kali, namun sudah tak terhingga kalimat ini mengiang di telinga kita. Bukan pula yang terakhir kali, karena inilah sunatudda’wah. Pernyataan ini senantiasa membekas di setiap zaman, di setiap episode dakwah, dari zaman kenabian sampai hari kiamat.
”Silahkan akhi, silahkan ukhti”, jawab seorang ikhwah menimpali. Beberapa dari kita mempersilahkan kepergian saudara dari barisan ini dengan sikap biasa-biasa. Sikap yang lahir dari pemahaman bahwa hal ini merupakan sunnah dakwah, bahwa akan selalu lahir ikhwah-ikhwah baru, mujahid-mujahid baru, bahwa Islam akan tetap terpelihara sehingga tidak pantas barisan ini merengek-rengek demi menahan kepergian seseorang, bahwa seleksi alamiah berlaku untuk membersihkan orang-orang yang barangkali memang kurang pantas mengemban amanah ini. Sikap ini tidak salah, banyak yang menerapkan dengan apa adanya, maka akhirnya tidak sedikitlah yang benar-benar mundur dari barisan ini .
Saat kita bersemangat, memiliki level iman yang stabil atau sedikit lebih baik, kita seolah-olah melihat saudara kita pun seperti kita. Menerapkan standar stabilitas keimanan kita kepada saudara-saudara kita, atau bahkan adik (ikhwah baru) kita. Maka, ketika kondisi saudara kita tidak stabil, sedang mengalami fluktuasi iman, futur, kita pun menganggapnya sebagai kader manja. Kita melihatnya dengan perspektif berbeda dengan apa yang dirasakannya atau yang dibutuhkannya. Kita yang stabil memaksa agar ia bisa survival bertahan di garis keimanan. Sehingga kita tidak merasa terlalu perlu untuk memberinya nasihat, atau motivasi-motivasi keimanan. Sementara betapa ia butuh sentuhan-sentuhan perhatian kita.
Kita berpikir bahwa suatu saat, kita akan hidup sendiri tanpa seorang ikhwah yang menemani di suatu daerah. Sehingga kita mengira bahwa kita harus bersiap-siap untuk hal tersebut. Maka ketika ada seorang yang futur, kita bersikap seolah-olah tidak peduli padanya. Dan ketika dia benar-benar mengucapkan, “selamat tinggal”, kita menyalahkannya atas kelemahannya. Kita menyelamatkan diri atas kesalahan dari futurnya saudara, dengan hiburan-hiburan bahwa ini adalah sunatuddakwah.
Tidak sedikit kisah-kisah futurnya ikhwah dari barisan ini setelah tarbiyah bertahun-tahun. Bukan hal yang mengejutkan memang, ulama bahkan ada yang murtad, berganti haluan, ustadz pun ada yang terjatuh, saat tergiur dengan indahnya dunia. Kehilangan seorang yang telah memiliki kepahaman dan mobilitas dakwah yang tinggi, apakah bisa diganti dengan masuknya 50 orang baru dalam barisan ini, tanpa kepahaman dan aksi dakwah yang mapan? Lepasnya seorang kader produktif apakah bisa ditutupi dengan hiburan bahwa 50 baru orang yang baru-baru mengikuti daurah tahap awal, dengan produktifitas dakwah yang masih nol?
Sahabatku, apakah orang yang baru tarbiyah 1 atau 5 tahun telah bisa menyamai kepribadian Ka’ab bin Malik ra?. Nilai keimanan memang tidak bisa diukur dengan lamanya tarbiyah, namun kita bisa melihat secara umum bagaimana kondisi keimanannya dengan parameter usia interaksinya dengan dakwah. Apakah kita akan menyikapi seorang yang baru setahun liqo dengan sikapnya Musa As kepada Harun As saat beliau menarik jenggot saudaranya?. Atau kita mencoba mengikuti marahnya Abu Bakar ra. Kepada Umar ra yang memilih jalur ‘lembut’ dalam menyikapi Musailamah dan orang-orang yang menolak zakat?. Sekeras itukah kita berperilaku terhadap seorang ikhwah?. Dimana senyummu saat pertama bertemu bersama dalam dakwah ini, dimana pelukmu seperti kepada adik-adikmu yang baru masuk dalam aksi tarbiyah?
Kunjungilah saudaramu, ketika lama ia tidak menyapamu, smslah ia saat sang adik tidak pernah muncul-muncul dalam pertemuan keimanan. Datangilah mereka yang lemah, mereka yang manja, tularkan petuah-petuah juangmu. Apakah benar sudah saatnya mereka survival dalam menjaga stablitas keimanananya Tidak, tidak ya akhi, cukuplah derai airmata ini, cukuplah kesedihan hilangnya seorang ikhwah berhenti sampai disini, dekaplah dan tahanlah mereka yang hendak pergi.
Kuntum bunga boleh layu, namun rekahnya bunga-bunga mujahid harus terjaga tetap hadir di sebuah kebun.
***
Dunia ibarat sebuah terminal
Hanya tempat persinggahan
Bersabarlah hadapi ujian
Tak kan lama kan tinggal
(Lirik Nasyid dari Suara Persaudaraan)
*** >> backsound: Senandung Ukhuwah by Aghave